The Digital Dark Age

risiko hilangnya seluruh data sejarah kita karena format file usang

The Digital Dark Age
I

Pernahkah kita bongkar-bongkar lemari tua di rumah kakek-nenek kita, lalu menemukan album foto keluarga dari tahun 70-an? Fotonya mungkin sudah agak pudar di bagian ujungnya, tapi senyum di sana masih terekam jelas. Kertas itu masih bisa kita pegang, ceritanya masih bisa kita rasakan.

Sekarang, mari kita bandingkan dengan situasi ini: di mana foto-foto yang kita ambil pakai ponsel pintar pertama kita sepuluh tahun lalu? Apakah tersimpan di hard drive usang yang kabel konektornya sudah hilang entah ke mana? Atau tersimpan di suatu akun media sosial yang password-nya sudah lupa kita catat?

Kita hidup di era di mana kita mengambil ribuan foto dan mengetik ratusan dokumen setiap tahun. Tapi ada sebuah ironi besar yang jarang kita sadari. Kita mungkin adalah generasi pertama di dunia yang sejarahnya paling berisiko lenyap begitu saja tanpa sisa.

II

Kalau kita mundur sebentar dan melihat sejarah peradaban manusia, cara kita mewariskan ingatan selalu bersifat sangat fisik.

Bangsa Sumeria menulis di atas lempengan tanah liat. Orang Mesir Kuno menggoreskan sejarah mereka di atas papyrus. Leluhur kita di Nusantara memahat candi megah dari batu andesit. Medium-medium ini menantang waktu.

Lalu, mengapa kita sekarang merasa aman-aman saja menyimpan seluruh hidup kita dalam bentuk tak kasatmata? Secara psikologis, kita terjebak dalam sesuatu yang disebut normalcy bias. Ini adalah kecenderungan otak kita untuk berasumsi bahwa karena hari ini semuanya baik-baik saja, maka masa depan pun akan berjalan sama. Kita merasa data kita abadi karena ada di "awan" atau cloud.

Padahal, mari kita jujur pada diri sendiri. "Awan" itu pada dasarnya hanyalah komputer raksasa milik perusahaan asing yang ditaruh di suatu tempat yang jauh. Kita merasa bangga menjadi peradaban yang paling canggih, padahal kenyataannya, medium penyimpanan kita saat ini adalah yang paling rapuh dalam sejarah umat manusia.

III

Coba kita bicarakan sedikit soal sains di balik layar kaca yang sedang kita tatap ini.

Semua data kita—foto liburan, dokumen pekerjaan penting, sampai chat manis dengan pasangan—sebenarnya hanyalah terjemahan dari miliaran angka 1 dan 0. Angka-angka ini disimpan dalam bentuk muatan magnetik atau elektrik mikroskopis di dalam sebuah perangkat keras.

Masalahnya, hukum fisika, khususnya termodinamika, tidak pernah memihak pada keteraturan. Ada fenomena fisik yang sangat nyata di dunia komputasi yang disebut bit rot atau pembusukan data. Secara perlahan dan pasti, muatan magnetik di dalam medium penyimpanan kita akan melemah. Komponen kimiawinya terurai seiring berjalannya waktu.

Tapi bencana sebenarnya tidak berhenti di situ. Anggaplah flashdisk kita secara ajaib bisa awet seratus tahun. Pertanyaan utamanya: apakah perangkat lunak dan mesin untuk membacanya masih ada?

Ingatkah teman-teman pada disket? Atau format file jadul yang dulu sangat populer di tahun 90-an? Jika hari ini kita menemukan disket berisi dokumen rahasia dari tahun 1995, berapa banyak dari kita yang punya alat untuk mencolokkannya ke laptop zaman now? Teknologi berlari terlalu cepat, dan dalam pelariannya, ia sering kali meninggalkan sejarah kita di belakang.

IV

Kenyataan ilmiah inilah yang membuat para ilmuwan komputer dan sejarawan dunia merinding. Mereka punya satu istilah khusus untuk menyebut ancaman ini: The Digital Dark Age atau Abad Kegelapan Digital.

Ironinya benar-benar luar biasa. Kita saat ini hidup di era banjir informasi. Kita adalah manusia yang paling banyak difoto, direkam, dan didokumentasikan dalam seluruh sejarah spesies Homo sapiens. Namun, bagi para sejarawan di tahun 3000 nanti, abad ke-21 mungkin akan terlihat seperti sebuah lubang hitam raksasa.

Mereka mungkin masih bisa membaca tulisan tangan dari zaman Romawi Kuno dengan mudah. Tapi mereka sangat mungkin gagal membaca dokumen kebijakan negara dari tahun 2024, hanya karena format PDF atau DOCX-nya sudah usang dan tidak dikenali lagi oleh sistem operasi masa depan.

Vint Cerf, salah satu ilmuwan yang dijuluki "bapak internet", sudah membunyikan alarm peringatan ini sejak lama. Beliau mengingatkan bahwa jika kita tidak segera menemukan cara untuk memastikan kompatibilitas sistem secara lintas generasi, seluruh abad kita ini akan lenyap tanpa bekas. Kita sedang tanpa sadar menciptakan amnesia massal untuk masa depan.

V

Tentu saja, saya membagikan ini bukan untuk mengajak teman-teman panik, lalu membuang ponsel pintar dan kembali memahat di atas batu.

Dunia sains tidak tinggal diam. Saat ini banyak ilmuwan sedang mencari jalan keluar ekstrem, mulai dari menyimpan data di dalam rantai DNA sintetis, hingga mengukirnya di dalam kristal kuarsa yang secara teoritis tahan jutaan tahun.

Tapi di tingkat personal, fenomena ini adalah sebuah undangan manis untuk merenung. Mungkin kita perlu mengevaluasi kembali hubungan emosional kita dengan kenangan. Pikiran manusia itu rapuh dan pelupa, tapi teknologi digital kita ternyata bisa jauh lebih pelupa lagi.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan hari ini? Mulailah dari hal yang paling sederhana. Coba pilih beberapa lembar foto yang benar-benar penting bagi kita, lalu cetaklah. Taruh di dalam laci meja atau di dalam album fisik. Tulislah pesan untuk orang tersayang di atas secarik kertas sesekali.

Di tengah dunia yang sibuk memproduksi triliunan data digital yang mudah menguap setiap harinya, kadang-kadang hal paling revolusioner dan abadi yang bisa kita wariskan adalah sebuah jejak fisik. Sebuah jejak nyata yang kelak bisa disentuh dan dirasakan langsung oleh anak-cucu kita.